Iklan dalam website, video online bahkan aplikasi mobile adalah hal yang sah-sah saja sebagai imbalan kepada pembuat konten karena telah membuat dan membagi secara GRATIS. Iklan-iklan yang ditawarkan melalui koneksi internet tidak berlaku bagi website, video online dan aplikasi mobile PREMIUM.

Beberapa hari yang lalu sempat heboh sebuah situs website blog menanyangkang iklan dewasa (p*rno) yang tidak layak ditampilkan kepada user yang berada pada kategori di bawah umur. Sontak hal ini membuat gaduh khususnya bagi orang tua peserta didik, dan netizen yang ramai-ramai memberikan komentar bernada negatif.

Hal semacam ini bukan hal baru dalam dunia advertiser online yang berorientasi pada website atau aplikasi mobile gratisan. Sebuah case study di beberapa tahun lalu, seorang developer android dikritik keras oleh penggunanya soal penayangan iklan dewasa (p*rno) di aplikasinya, karena dinilai tidak sesuai dengan aplikasi sebuah kitab suci berbasis aplikasi android.

Kejadian seperti itu terjadi karena dua hal yang sifatnya human error developer maupun pengguna. Pertama, kelalaian developer yaitu lupa memfilter iklan pornografi bagi orang dewasa dan pengguna di bawah umur agar tidak tampil di website atau aplikasi. Kedua sistem advertiser membaca perilaku pengguna, banyak yang tidak menyadari bahwa perilaku yang dilakukan pengguna dapat dicatat oleh ponsel atau perangkat elektronik kita yang terkoneksi internet.

Platform Advertiser akan membaca perilaku tersebut untuk menyarankan iklan yang dapat ditayangkan. Misal pengguna dalam beberapa hari ini melakukan pencarian di mesin pencarian google tentang kesehatan maka iklan yang tayang cenderung yang berkaitan dengan kesehatan.

Hal lain yang mungkin menjadi penyebab iklan dewasa (p*rno) yang tampil adalah iklan yang berhubungan dengan konten. Misalkan, sebuah artikel di website tentang reproduksi manusia maka iklan yang ditampilkan dapat berhubungan dengan konten tersebut.

Internet bak pisau bermata dua, human error dapat diminimalisir dengan meningkatkan kewaspadaan kita sebagai manusia dewasa. Kecerdasan sistem tak dapat seutuhnya menyentuh norma-norma kemanusiaan. Di era informasi yang terbuka dewasa ini sepatutnya membuat kita lebih mawas dan bijak dalam berperilaku di internet.

Baca juga : Adsense membayar Media Pembelajaran yang Guru/Dosen buat

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]Keadaan dewasa ini sangat potensial bagi content creator di bidang pendidikan untuk membuat materi yang berhubungan dengan materi pembelajaran. Volume di mesin pencarian google dan sejenisnya, tentang materi meningkat secara drastis. Tak ayal ini menjadi momentum untuk content creator mendatang banyak pengunjung di website, youtube bahkan aplikasi mobile. Banyaknya pengunjung/penonton/pengguna iklan yang dapat disisipkan dalam materi juga berpeluang tinggi untuk ditampilkan.

Iklan dalam website, video online bahkan aplikasi mobile adalah hal yang sah-sah saja sebagai imbalan kepada pembuat konten karena telah membuat dan membagi secara GRATIS. Iklan-iklan yang ditawarkan melalui koneksi internet tidak berlaku bagi website, video online dan aplikasi mobile PREMIUM.

Beberapa hari yang lalu sempat heboh sebuah situs website blog menanyangkang iklan dewasa (p*rno) yang tidak layak ditampilkan kepada user yang berada pada kategori di bawah umur. Sontak hal ini membuat gaduh khususnya bagi orang tua peserta didik, dan netizen yang ramai-ramai memberikan komentar bernada negatif.

Hal semacam ini bukan hal baru dalam dunia advertiser online yang berorientasi pada website atau aplikasi mobile gratisan. Sebuah case study di beberapa tahun lalu, seorang developer android dikritik keras oleh penggunanya soal penayangan iklan dewasa (p*rno) di aplikasinya, karena dinilai tidak sesuai dengan aplikasi sebuah kitab suci berbasis aplikasi android.

Kejadian seperti itu terjadi karena dua hal yang sifatnya human error developer maupun pengguna. Pertama, kelalaian developer yaitu lupa memfilter iklan pornografi bagi orang dewasa dan pengguna di bawah umur agar tidak tampil di website atau aplikasi. Kedua sistem advertiser membaca perilaku pengguna, banyak yang tidak menyadari bahwa perilaku yang dilakukan pengguna dapat dicatat oleh ponsel atau perangkat elektronik kita yang terkoneksi internet.

Platform Advertiser akan membaca perilaku tersebut untuk menyarankan iklan yang dapat ditayangkan. Misal pengguna dalam beberapa hari ini melakukan pencarian di mesin pencarian google tentang kesehatan maka iklan yang tayang cenderung yang berkaitan dengan kesehatan.

Hal lain yang mungkin menjadi penyebab iklan dewasa (p*rno) yang tampil adalah iklan yang berhubungan dengan konten. Misalkan, sebuah artikel di website tentang reproduksi manusia maka iklan yang ditampilkan dapat berhubungan dengan konten tersebut.

Internet bak pisau bermata dua, human error dapat diminimalisir dengan meningkatkan kewaspadaan kita sebagai manusia dewasa. Kecerdasan sistem tak dapat seutuhnya menyentuh norma-norma kemanusiaan. Di era informasi yang terbuka dewasa ini sepatutnya membuat kita lebih mawas dan bijak dalam berperilaku di internet.

Baca juga : Adsense membayar Media Pembelajaran yang Guru/Dosen buat

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]Lalu lintas di dunia internet dewasa ini sangat tinggi, pembelajaran jarak jauh (PJJ) merupakan salah satu indikatornya. Internet menjadi elemen utama untuk menghubungkan berbagai kegiatan jarak jauh seperti berkomunikasi sampai bertukar data (gambar, dokumen, video dan lain-lain).

Keadaan dewasa ini sangat potensial bagi content creator di bidang pendidikan untuk membuat materi yang berhubungan dengan materi pembelajaran. Volume di mesin pencarian google dan sejenisnya, tentang materi meningkat secara drastis. Tak ayal ini menjadi momentum untuk content creator mendatang banyak pengunjung di website, youtube bahkan aplikasi mobile. Banyaknya pengunjung/penonton/pengguna iklan yang dapat disisipkan dalam materi juga berpeluang tinggi untuk ditampilkan.

Iklan dalam website, video online bahkan aplikasi mobile adalah hal yang sah-sah saja sebagai imbalan kepada pembuat konten karena telah membuat dan membagi secara GRATIS. Iklan-iklan yang ditawarkan melalui koneksi internet tidak berlaku bagi website, video online dan aplikasi mobile PREMIUM.

Beberapa hari yang lalu sempat heboh sebuah situs website blog menanyangkang iklan dewasa (p*rno) yang tidak layak ditampilkan kepada user yang berada pada kategori di bawah umur. Sontak hal ini membuat gaduh khususnya bagi orang tua peserta didik, dan netizen yang ramai-ramai memberikan komentar bernada negatif.

Hal semacam ini bukan hal baru dalam dunia advertiser online yang berorientasi pada website atau aplikasi mobile gratisan. Sebuah case study di beberapa tahun lalu, seorang developer android dikritik keras oleh penggunanya soal penayangan iklan dewasa (p*rno) di aplikasinya, karena dinilai tidak sesuai dengan aplikasi sebuah kitab suci berbasis aplikasi android.

Kejadian seperti itu terjadi karena dua hal yang sifatnya human error developer maupun pengguna. Pertama, kelalaian developer yaitu lupa memfilter iklan pornografi bagi orang dewasa dan pengguna di bawah umur agar tidak tampil di website atau aplikasi. Kedua sistem advertiser membaca perilaku pengguna, banyak yang tidak menyadari bahwa perilaku yang dilakukan pengguna dapat dicatat oleh ponsel atau perangkat elektronik kita yang terkoneksi internet.

Platform Advertiser akan membaca perilaku tersebut untuk menyarankan iklan yang dapat ditayangkan. Misal pengguna dalam beberapa hari ini melakukan pencarian di mesin pencarian google tentang kesehatan maka iklan yang tayang cenderung yang berkaitan dengan kesehatan.

Hal lain yang mungkin menjadi penyebab iklan dewasa (p*rno) yang tampil adalah iklan yang berhubungan dengan konten. Misalkan, sebuah artikel di website tentang reproduksi manusia maka iklan yang ditampilkan dapat berhubungan dengan konten tersebut.

Internet bak pisau bermata dua, human error dapat diminimalisir dengan meningkatkan kewaspadaan kita sebagai manusia dewasa. Kecerdasan sistem tak dapat seutuhnya menyentuh norma-norma kemanusiaan. Di era informasi yang terbuka dewasa ini sepatutnya membuat kita lebih mawas dan bijak dalam berperilaku di internet.

Baca juga : Adsense membayar Media Pembelajaran yang Guru/Dosen buat

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Lalu lintas di dunia internet dewasa ini sangat tinggi, pembelajaran jarak jauh (PJJ) merupakan salah satu indikatornya. Internet menjadi elemen utama untuk menghubungkan berbagai kegiatan jarak jauh seperti berkomunikasi sampai bertukar data (gambar, dokumen, video dan lain-lain).

Keadaan dewasa ini sangat potensial bagi content creator di bidang pendidikan untuk membuat materi yang berhubungan dengan materi pembelajaran. Volume di mesin pencarian google dan sejenisnya, tentang materi meningkat secara drastis. Tak ayal ini menjadi momentum untuk content creator mendatang banyak pengunjung di website, youtube bahkan aplikasi mobile. Banyaknya pengunjung/penonton/pengguna iklan yang dapat disisipkan dalam materi juga berpeluang tinggi untuk ditampilkan.

Iklan dalam website, video online bahkan aplikasi mobile adalah hal yang sah-sah saja sebagai imbalan kepada pembuat konten karena telah membuat dan membagi secara GRATIS. Iklan-iklan yang ditawarkan melalui koneksi internet tidak berlaku bagi website, video online dan aplikasi mobile PREMIUM.

Beberapa hari yang lalu sempat heboh sebuah situs website blog menanyangkang iklan dewasa (p*rno) yang tidak layak ditampilkan kepada user yang berada pada kategori di bawah umur. Sontak hal ini membuat gaduh khususnya bagi orang tua peserta didik, dan netizen yang ramai-ramai memberikan komentar bernada negatif.

Hal semacam ini bukan hal baru dalam dunia advertiser online yang berorientasi pada website atau aplikasi mobile gratisan. Sebuah case study di beberapa tahun lalu, seorang developer android dikritik keras oleh penggunanya soal penayangan iklan dewasa (p*rno) di aplikasinya, karena dinilai tidak sesuai dengan aplikasi sebuah kitab suci berbasis aplikasi android.

Kejadian seperti itu terjadi karena dua hal yang sifatnya human error developer maupun pengguna. Pertama, kelalaian developer yaitu lupa memfilter iklan pornografi bagi orang dewasa dan pengguna di bawah umur agar tidak tampil di website atau aplikasi. Kedua sistem advertiser membaca perilaku pengguna, banyak yang tidak menyadari bahwa perilaku yang dilakukan pengguna dapat dicatat oleh ponsel atau perangkat elektronik kita yang terkoneksi internet.

Platform Advertiser akan membaca perilaku tersebut untuk menyarankan iklan yang dapat ditayangkan. Misal pengguna dalam beberapa hari ini melakukan pencarian di mesin pencarian google tentang kesehatan maka iklan yang tayang cenderung yang berkaitan dengan kesehatan.

Hal lain yang mungkin menjadi penyebab iklan dewasa (p*rno) yang tampil adalah iklan yang berhubungan dengan konten. Misalkan, sebuah artikel di website tentang reproduksi manusia maka iklan yang ditampilkan dapat berhubungan dengan konten tersebut.

Internet bak pisau bermata dua, human error dapat diminimalisir dengan meningkatkan kewaspadaan kita sebagai manusia dewasa. Kecerdasan sistem tak dapat seutuhnya menyentuh norma-norma kemanusiaan. Di era informasi yang terbuka dewasa ini sepatutnya membuat kita lebih mawas dan bijak dalam berperilaku di internet.

Baca juga : Adsense membayar Media Pembelajaran yang Guru/Dosen buat