Seperti waktu yang tidak bisa dihentikan meskipun sedikit saja, ketimpangan tersebut justru jangan menjadi penghambat untuk menyiapkan elemen-elemen di dunia pendidikan agar siap menghadapi era industri 4.0.

Salah satu indikator siapnya dunia pendidikan Indonesia untuk menghadapi era industri 4.0 adalah memanfaatkan multimedia pembelajaran interaktif pada kegiatan belajar mengajar secara tatap muka maupun daring. Multimedia pembelajaran interaktif pada hakekatnya alat untuk peserta didik memahami materi pembelajaran. Multimedia pembelajaran interaktif dapat dikemas dalam bentuk aplikasi di komputer maupun smartphone.

Multimedia pembelajaran interaktif merupakan karya. Pada setiap karya, terdapat nilai ekonomi yang bisa menghidupi pencipta karyanya bahkan menjadi stimulus lahirnya karya-karya berikutnya. Multimedia pembelajaran di era industri 4.0 tentu menjadi peluang guru/dosen untuk menghasilkan pundi-pundi dollar yang dikonversi menjadi rupiah.

Jika multimedia pembelajaran interaktif dapat menghasilkan uang, maka siapa yang memberi insentif kepada pembuat Karya?, Bagaimana caranya menerima pembayaran dari multimedia pembelajaran yang telah dibuat dan dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran?, dan pertanyaan lainnya.

Analogi yang dapat menggambarkan bahwa multimedia pembelajaran interaktif bernilai ekonomi adalah lampu merah di perempatan jalan. Jika diperhatikan dengan seksama di lampu merah banyak papan reklame yang bertebaran di sekitarnya sehingga menjadi peluang iklan yang dipromosikan dapat dilihat oleh pengguna jalan. Sama halnya dengan lampu merah, multimedia pembelajaran juga bisa disisipi iklan.

Teknologi multimedia pembelajaran interaktif yang terbarukan yang dapat disisipi iklan antara lain yaitu dikemas dalam bentuk aplikasi di smartphone Android maupun IOS. Google akan memasang iklan di multimedia pembelajaran interaktif dan pembuat karyanya akan diberi insentif. Penghasilan tersebut dapat menjadi di pasif income bagi guru atau dosen. Setelah aplikasi Android atau IOS multimedia pembelajaran interaktif dibuat dan dipublish ke Google Play Store atau Apps Store, maka Google akan memberi insentif melalui platform Google Adsense Mobile (AdMob) yang selanjutnya akan dikirim ke nomor rekening pembuat aplikasi multimedia pembelajaran interaktif.

Baca juga : Adsense membayar Media Pembelajaran yang Guru/Dosen buat

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]Industri 4.0 di Indonesia adalah sebuah diskriminasi, karena daerah Tertinggal akan semakin Tertinggal. Di dunia pendidikan ini tentu menjadi sebuah Ironi karena peserta didik yang berasal dari daerah 3T akan kesulitan mengikuti kegiatan pembelajaran secara daring.

Seperti waktu yang tidak bisa dihentikan meskipun sedikit saja, ketimpangan tersebut justru jangan menjadi penghambat untuk menyiapkan elemen-elemen di dunia pendidikan agar siap menghadapi era industri 4.0.

Salah satu indikator siapnya dunia pendidikan Indonesia untuk menghadapi era industri 4.0 adalah memanfaatkan multimedia pembelajaran interaktif pada kegiatan belajar mengajar secara tatap muka maupun daring. Multimedia pembelajaran interaktif pada hakekatnya alat untuk peserta didik memahami materi pembelajaran. Multimedia pembelajaran interaktif dapat dikemas dalam bentuk aplikasi di komputer maupun smartphone.

Multimedia pembelajaran interaktif merupakan karya. Pada setiap karya, terdapat nilai ekonomi yang bisa menghidupi pencipta karyanya bahkan menjadi stimulus lahirnya karya-karya berikutnya. Multimedia pembelajaran di era industri 4.0 tentu menjadi peluang guru/dosen untuk menghasilkan pundi-pundi dollar yang dikonversi menjadi rupiah.

Jika multimedia pembelajaran interaktif dapat menghasilkan uang, maka siapa yang memberi insentif kepada pembuat Karya?, Bagaimana caranya menerima pembayaran dari multimedia pembelajaran yang telah dibuat dan dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran?, dan pertanyaan lainnya.

Analogi yang dapat menggambarkan bahwa multimedia pembelajaran interaktif bernilai ekonomi adalah lampu merah di perempatan jalan. Jika diperhatikan dengan seksama di lampu merah banyak papan reklame yang bertebaran di sekitarnya sehingga menjadi peluang iklan yang dipromosikan dapat dilihat oleh pengguna jalan. Sama halnya dengan lampu merah, multimedia pembelajaran juga bisa disisipi iklan.

Teknologi multimedia pembelajaran interaktif yang terbarukan yang dapat disisipi iklan antara lain yaitu dikemas dalam bentuk aplikasi di smartphone Android maupun IOS. Google akan memasang iklan di multimedia pembelajaran interaktif dan pembuat karyanya akan diberi insentif. Penghasilan tersebut dapat menjadi di pasif income bagi guru atau dosen. Setelah aplikasi Android atau IOS multimedia pembelajaran interaktif dibuat dan dipublish ke Google Play Store atau Apps Store, maka Google akan memberi insentif melalui platform Google Adsense Mobile (AdMob) yang selanjutnya akan dikirim ke nomor rekening pembuat aplikasi multimedia pembelajaran interaktif.

Baca juga : Adsense membayar Media Pembelajaran yang Guru/Dosen buat

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]Pandemi ini benar-benar menguji bangsa Indonesia dalam menghadapi era industri 4.0, khususnya pada bidang pendidikan. Pada era industri 4.0 elemen yang paling fundamental adalah pemanfaatan dan pengembangan teknologi terbarukan. Internet menjadi kebutuhan primer baik disadari ataupun tidak, meskipun pemerataan infrastruktur internet di Indonesia masih belum merata khususnya di daerah 3T.

Industri 4.0 di Indonesia adalah sebuah diskriminasi, karena daerah Tertinggal akan semakin Tertinggal. Di dunia pendidikan ini tentu menjadi sebuah Ironi karena peserta didik yang berasal dari daerah 3T akan kesulitan mengikuti kegiatan pembelajaran secara daring.

Seperti waktu yang tidak bisa dihentikan meskipun sedikit saja, ketimpangan tersebut justru jangan menjadi penghambat untuk menyiapkan elemen-elemen di dunia pendidikan agar siap menghadapi era industri 4.0.

Salah satu indikator siapnya dunia pendidikan Indonesia untuk menghadapi era industri 4.0 adalah memanfaatkan multimedia pembelajaran interaktif pada kegiatan belajar mengajar secara tatap muka maupun daring. Multimedia pembelajaran interaktif pada hakekatnya alat untuk peserta didik memahami materi pembelajaran. Multimedia pembelajaran interaktif dapat dikemas dalam bentuk aplikasi di komputer maupun smartphone.

Multimedia pembelajaran interaktif merupakan karya. Pada setiap karya, terdapat nilai ekonomi yang bisa menghidupi pencipta karyanya bahkan menjadi stimulus lahirnya karya-karya berikutnya. Multimedia pembelajaran di era industri 4.0 tentu menjadi peluang guru/dosen untuk menghasilkan pundi-pundi dollar yang dikonversi menjadi rupiah.

Jika multimedia pembelajaran interaktif dapat menghasilkan uang, maka siapa yang memberi insentif kepada pembuat Karya?, Bagaimana caranya menerima pembayaran dari multimedia pembelajaran yang telah dibuat dan dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran?, dan pertanyaan lainnya.

Analogi yang dapat menggambarkan bahwa multimedia pembelajaran interaktif bernilai ekonomi adalah lampu merah di perempatan jalan. Jika diperhatikan dengan seksama di lampu merah banyak papan reklame yang bertebaran di sekitarnya sehingga menjadi peluang iklan yang dipromosikan dapat dilihat oleh pengguna jalan. Sama halnya dengan lampu merah, multimedia pembelajaran juga bisa disisipi iklan.

Teknologi multimedia pembelajaran interaktif yang terbarukan yang dapat disisipi iklan antara lain yaitu dikemas dalam bentuk aplikasi di smartphone Android maupun IOS. Google akan memasang iklan di multimedia pembelajaran interaktif dan pembuat karyanya akan diberi insentif. Penghasilan tersebut dapat menjadi di pasif income bagi guru atau dosen. Setelah aplikasi Android atau IOS multimedia pembelajaran interaktif dibuat dan dipublish ke Google Play Store atau Apps Store, maka Google akan memberi insentif melalui platform Google Adsense Mobile (AdMob) yang selanjutnya akan dikirim ke nomor rekening pembuat aplikasi multimedia pembelajaran interaktif.

Baca juga : Adsense membayar Media Pembelajaran yang Guru/Dosen buat

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]Pandemi covid-19 selama empat bulan terakhir memaksa semua kegiatan belajar mengajar beralih via daring, karena tidak memungkinkan pembelajaran dilakukan secara tatap muka. Penyesuaian dilakukan secara masif baik dari pihak pemerintah, guru, siswa bahkan orang tua. Tidak banyak pula yang kesulitan menyesuaikan diri untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara daring. Beberapa kendala yang yang menjadi hambatan antara lain fasilitas yang tidak mendukung, sumber daya manusia yang tidak cekatan dalam menyesuaikan diri.

Pandemi ini benar-benar menguji bangsa Indonesia dalam menghadapi era industri 4.0, khususnya pada bidang pendidikan. Pada era industri 4.0 elemen yang paling fundamental adalah pemanfaatan dan pengembangan teknologi terbarukan. Internet menjadi kebutuhan primer baik disadari ataupun tidak, meskipun pemerataan infrastruktur internet di Indonesia masih belum merata khususnya di daerah 3T.

Industri 4.0 di Indonesia adalah sebuah diskriminasi, karena daerah Tertinggal akan semakin Tertinggal. Di dunia pendidikan ini tentu menjadi sebuah Ironi karena peserta didik yang berasal dari daerah 3T akan kesulitan mengikuti kegiatan pembelajaran secara daring.

Seperti waktu yang tidak bisa dihentikan meskipun sedikit saja, ketimpangan tersebut justru jangan menjadi penghambat untuk menyiapkan elemen-elemen di dunia pendidikan agar siap menghadapi era industri 4.0.

Salah satu indikator siapnya dunia pendidikan Indonesia untuk menghadapi era industri 4.0 adalah memanfaatkan multimedia pembelajaran interaktif pada kegiatan belajar mengajar secara tatap muka maupun daring. Multimedia pembelajaran interaktif pada hakekatnya alat untuk peserta didik memahami materi pembelajaran. Multimedia pembelajaran interaktif dapat dikemas dalam bentuk aplikasi di komputer maupun smartphone.

Multimedia pembelajaran interaktif merupakan karya. Pada setiap karya, terdapat nilai ekonomi yang bisa menghidupi pencipta karyanya bahkan menjadi stimulus lahirnya karya-karya berikutnya. Multimedia pembelajaran di era industri 4.0 tentu menjadi peluang guru/dosen untuk menghasilkan pundi-pundi dollar yang dikonversi menjadi rupiah.

Jika multimedia pembelajaran interaktif dapat menghasilkan uang, maka siapa yang memberi insentif kepada pembuat Karya?, Bagaimana caranya menerima pembayaran dari multimedia pembelajaran yang telah dibuat dan dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran?, dan pertanyaan lainnya.

Analogi yang dapat menggambarkan bahwa multimedia pembelajaran interaktif bernilai ekonomi adalah lampu merah di perempatan jalan. Jika diperhatikan dengan seksama di lampu merah banyak papan reklame yang bertebaran di sekitarnya sehingga menjadi peluang iklan yang dipromosikan dapat dilihat oleh pengguna jalan. Sama halnya dengan lampu merah, multimedia pembelajaran juga bisa disisipi iklan.

Teknologi multimedia pembelajaran interaktif yang terbarukan yang dapat disisipi iklan antara lain yaitu dikemas dalam bentuk aplikasi di smartphone Android maupun IOS. Google akan memasang iklan di multimedia pembelajaran interaktif dan pembuat karyanya akan diberi insentif. Penghasilan tersebut dapat menjadi di pasif income bagi guru atau dosen. Setelah aplikasi Android atau IOS multimedia pembelajaran interaktif dibuat dan dipublish ke Google Play Store atau Apps Store, maka Google akan memberi insentif melalui platform Google Adsense Mobile (AdMob) yang selanjutnya akan dikirim ke nomor rekening pembuat aplikasi multimedia pembelajaran interaktif.

Baca juga : Adsense membayar Media Pembelajaran yang Guru/Dosen buat

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Pandemi covid-19 selama empat bulan terakhir memaksa semua kegiatan belajar mengajar beralih via daring, karena tidak memungkinkan pembelajaran dilakukan secara tatap muka. Penyesuaian dilakukan secara masif baik dari pihak pemerintah, guru, siswa bahkan orang tua. Tidak banyak pula yang kesulitan menyesuaikan diri untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara daring. Beberapa kendala yang yang menjadi hambatan antara lain fasilitas yang tidak mendukung, sumber daya manusia yang tidak cekatan dalam menyesuaikan diri.

Pandemi ini benar-benar menguji bangsa Indonesia dalam menghadapi era industri 4.0, khususnya pada bidang pendidikan. Pada era industri 4.0 elemen yang paling fundamental adalah pemanfaatan dan pengembangan teknologi terbarukan. Internet menjadi kebutuhan primer baik disadari ataupun tidak, meskipun pemerataan infrastruktur internet di Indonesia masih belum merata khususnya di daerah 3T.

Industri 4.0 di Indonesia adalah sebuah diskriminasi, karena daerah Tertinggal akan semakin Tertinggal. Di dunia pendidikan ini tentu menjadi sebuah Ironi karena peserta didik yang berasal dari daerah 3T akan kesulitan mengikuti kegiatan pembelajaran secara daring.

Seperti waktu yang tidak bisa dihentikan meskipun sedikit saja, ketimpangan tersebut justru jangan menjadi penghambat untuk menyiapkan elemen-elemen di dunia pendidikan agar siap menghadapi era industri 4.0.

Salah satu indikator siapnya dunia pendidikan Indonesia untuk menghadapi era industri 4.0 adalah memanfaatkan multimedia pembelajaran interaktif pada kegiatan belajar mengajar secara tatap muka maupun daring. Multimedia pembelajaran interaktif pada hakekatnya alat untuk peserta didik memahami materi pembelajaran. Multimedia pembelajaran interaktif dapat dikemas dalam bentuk aplikasi di komputer maupun smartphone.

Multimedia pembelajaran interaktif merupakan karya. Pada setiap karya, terdapat nilai ekonomi yang bisa menghidupi pencipta karyanya bahkan menjadi stimulus lahirnya karya-karya berikutnya. Multimedia pembelajaran di era industri 4.0 tentu menjadi peluang guru/dosen untuk menghasilkan pundi-pundi dollar yang dikonversi menjadi rupiah.

Jika multimedia pembelajaran interaktif dapat menghasilkan uang, maka siapa yang memberi insentif kepada pembuat Karya?, Bagaimana caranya menerima pembayaran dari multimedia pembelajaran yang telah dibuat dan dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran?, dan pertanyaan lainnya.

Analogi yang dapat menggambarkan bahwa multimedia pembelajaran interaktif bernilai ekonomi adalah lampu merah di perempatan jalan. Jika diperhatikan dengan seksama di lampu merah banyak papan reklame yang bertebaran di sekitarnya sehingga menjadi peluang iklan yang dipromosikan dapat dilihat oleh pengguna jalan. Sama halnya dengan lampu merah, multimedia pembelajaran juga bisa disisipi iklan.

Teknologi multimedia pembelajaran interaktif yang terbarukan yang dapat disisipi iklan antara lain yaitu dikemas dalam bentuk aplikasi di smartphone Android maupun IOS. Google akan memasang iklan di multimedia pembelajaran interaktif dan pembuat karyanya akan diberi insentif. Penghasilan tersebut dapat menjadi di pasif income bagi guru atau dosen. Setelah aplikasi Android atau IOS multimedia pembelajaran interaktif dibuat dan dipublish ke Google Play Store atau Apps Store, maka Google akan memberi insentif melalui platform Google Adsense Mobile (AdMob) yang selanjutnya akan dikirim ke nomor rekening pembuat aplikasi multimedia pembelajaran interaktif.

Baca juga : Adsense membayar Media Pembelajaran yang Guru/Dosen buat