Kemajuan teknologi membuat akses semakin mudah memangkas kendala waktu, jarak, tenaga biaya dan lain-lain. Hampir semua orang pernah melihat content di YouTube, dan bahkan sekarang semua orang dari lapisan masyarakat berlomba-lomba membuat content video di YouTube.

YouTube terbuka untuk siapa saja yang ingin membuat video tentang apa saja (sesuai dengan kebijakan pihak YouTube). Hal menarik yang akhirnya banyak orang ingin menjadi YouTuber adalah kebebasan dan nilai ekonomis yang cukup menjanjikan. Tak ayal bahkan saat ini YouTuber telah menjadi suatu profesi pekerjaan bagi sebagian orang yang benar-benar serius menjadi suatu pekerjaan utama.

YouTube menjadi Advertisement terbuka bagi advertiser yang ingin menjajakkan atau menawarkan barang/jasa kepada puluhan bahkan ratusan juta user YouTube. Dalam dunia advertisement lalu lintas yang padat dan massa yang banyak memiliki potensi ekosistem periklanan yang tinggi.

Layaknya sebuah stasiun televisi atau radio yang dapat menempatkan iklan di sela-sela acara yang ditawarkan kepada penonton atau pendengarnya, atau seperti lalu lintas padat di perempatan lampu merah dan di ruas-ruas jalan. Jika diperhatikan dengan seksama banyak iklan-iklan yang menjajakkan atau menawarkan barang atau jasa di tempat-tempat strategis yang memiliki lalu lintas dan massa yang banyak.

Pemberdayaan massa yang baik akan mengkonversi tindakan yang lebih masif. Dunia pendidikan adalah salah satu produsen penghasil massa yang sangat besar, namun terkadang hal ini tidak banyak disadari oleh para petinggi negeri dan belum ada kebijakan yang mengarah pada pembacaan potensi tersebut. Segala jenjang pendidikan di suatu daerah memiliki basis massa yang sangat besar, jika skalanya adalah Indonesia maka massa pendidikan jumlahnya sangat besar. Jika satu sekolah memiliki +-300 orang maka jika kalikan dengan jumlah sekolah dalam satu daerah maka ini adalah suatu pembacaan potensi yang menjanjikan.

Unsur-unsur di atas tersebut dapat menjadi cikal bakal pemerintah membuat suatu platform video pembelajaran khusus pendidikan dengan memberdayakan pendidik. Platform video tersebut akan menjadi ekosistem yang berdampak baik kepada pemerintah, guru, peserta didik dan pengiklan. Dampak besarnya dapat menjadikan kualitas pendidikan yang lebih mandiri dan lebih baik.

Pemanfaatan potensi ini tentu sangat bisa diwujudkan oleh pemerintah yang memiliki segala sumber daya. Jika berkaca pada kesuksesan ‘mas menteri’ di GoJek sebelum berada di singgasana kemendikbud ini tentu bukan suatu hal yang sukar diwujudkan. Tidak salahnya mengadopsi sistem start up yang sedang naik daun di masa pandemi dewasa ini yaitu ‘Ruang Guru‘. Selayang pandang tentang Pemerintah harus belajar dari ‘platform’ YouTube untuk membuat tandingan Ruang Guru.

Baca juga : Skema pemberdayaan perkumpulan guru (MGMP) untuk distribusi media pembelajaran

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]YouTube merupakan platform digital berbasis video milik Google yang satu dekade terakhir berkembang sangat pesat. YouTube berhasil menciptakan ekosistem yang sangat baik, memiliki daya tarik serta penawaran-penawaran ‘surga’ bagi populasi yang berada dalam nauangan payaung YouTube. Jika di awal 2008 YouTube hanya sebuah platform tempat berbagi video yang dilabeli ‘YouTube lebih dari TV’. Akhir-akhir ini YouTube bertransformasi menjadi ekosistem periklanan yang sangat menjanjikan.

Kemajuan teknologi membuat akses semakin mudah memangkas kendala waktu, jarak, tenaga biaya dan lain-lain. Hampir semua orang pernah melihat content di YouTube, dan bahkan sekarang semua orang dari lapisan masyarakat berlomba-lomba membuat content video di YouTube.

YouTube terbuka untuk siapa saja yang ingin membuat video tentang apa saja (sesuai dengan kebijakan pihak YouTube). Hal menarik yang akhirnya banyak orang ingin menjadi YouTuber adalah kebebasan dan nilai ekonomis yang cukup menjanjikan. Tak ayal bahkan saat ini YouTuber telah menjadi suatu profesi pekerjaan bagi sebagian orang yang benar-benar serius menjadi suatu pekerjaan utama.

YouTube menjadi Advertisement terbuka bagi advertiser yang ingin menjajakkan atau menawarkan barang/jasa kepada puluhan bahkan ratusan juta user YouTube. Dalam dunia advertisement lalu lintas yang padat dan massa yang banyak memiliki potensi ekosistem periklanan yang tinggi.

Layaknya sebuah stasiun televisi atau radio yang dapat menempatkan iklan di sela-sela acara yang ditawarkan kepada penonton atau pendengarnya, atau seperti lalu lintas padat di perempatan lampu merah dan di ruas-ruas jalan. Jika diperhatikan dengan seksama banyak iklan-iklan yang menjajakkan atau menawarkan barang atau jasa di tempat-tempat strategis yang memiliki lalu lintas dan massa yang banyak.

Pemberdayaan massa yang baik akan mengkonversi tindakan yang lebih masif. Dunia pendidikan adalah salah satu produsen penghasil massa yang sangat besar, namun terkadang hal ini tidak banyak disadari oleh para petinggi negeri dan belum ada kebijakan yang mengarah pada pembacaan potensi tersebut. Segala jenjang pendidikan di suatu daerah memiliki basis massa yang sangat besar, jika skalanya adalah Indonesia maka massa pendidikan jumlahnya sangat besar. Jika satu sekolah memiliki +-300 orang maka jika kalikan dengan jumlah sekolah dalam satu daerah maka ini adalah suatu pembacaan potensi yang menjanjikan.

Unsur-unsur di atas tersebut dapat menjadi cikal bakal pemerintah membuat suatu platform video pembelajaran khusus pendidikan dengan memberdayakan pendidik. Platform video tersebut akan menjadi ekosistem yang berdampak baik kepada pemerintah, guru, peserta didik dan pengiklan. Dampak besarnya dapat menjadikan kualitas pendidikan yang lebih mandiri dan lebih baik.

Pemanfaatan potensi ini tentu sangat bisa diwujudkan oleh pemerintah yang memiliki segala sumber daya. Jika berkaca pada kesuksesan ‘mas menteri’ di GoJek sebelum berada di singgasana kemendikbud ini tentu bukan suatu hal yang sukar diwujudkan. Tidak salahnya mengadopsi sistem start up yang sedang naik daun di masa pandemi dewasa ini yaitu ‘Ruang Guru‘. Selayang pandang tentang Pemerintah harus belajar dari ‘platform’ YouTube untuk membuat tandingan Ruang Guru.

Baca juga : Skema pemberdayaan perkumpulan guru (MGMP) untuk distribusi media pembelajaran

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

YouTube merupakan platform digital berbasis video milik Google yang satu dekade terakhir berkembang sangat pesat. YouTube berhasil menciptakan ekosistem yang sangat baik, memiliki daya tarik serta penawaran-penawaran ‘surga’ bagi populasi yang berada dalam nauangan payaung YouTube. Jika di awal 2008 YouTube hanya sebuah platform tempat berbagi video yang dilabeli ‘YouTube lebih dari TV’. Akhir-akhir ini YouTube bertransformasi menjadi ekosistem periklanan yang sangat menjanjikan.

Kemajuan teknologi membuat akses semakin mudah memangkas kendala waktu, jarak, tenaga biaya dan lain-lain. Hampir semua orang pernah melihat content di YouTube, dan bahkan sekarang semua orang dari lapisan masyarakat berlomba-lomba membuat content video di YouTube.

YouTube terbuka untuk siapa saja yang ingin membuat video tentang apa saja (sesuai dengan kebijakan pihak YouTube). Hal menarik yang akhirnya banyak orang ingin menjadi YouTuber adalah kebebasan dan nilai ekonomis yang cukup menjanjikan. Tak ayal bahkan saat ini YouTuber telah menjadi suatu profesi pekerjaan bagi sebagian orang yang benar-benar serius menjadi suatu pekerjaan utama.

YouTube menjadi Advertisement terbuka bagi advertiser yang ingin menjajakkan atau menawarkan barang/jasa kepada puluhan bahkan ratusan juta user YouTube. Dalam dunia advertisement lalu lintas yang padat dan massa yang banyak memiliki potensi ekosistem periklanan yang tinggi.

Layaknya sebuah stasiun televisi atau radio yang dapat menempatkan iklan di sela-sela acara yang ditawarkan kepada penonton atau pendengarnya, atau seperti lalu lintas padat di perempatan lampu merah dan di ruas-ruas jalan. Jika diperhatikan dengan seksama banyak iklan-iklan yang menjajakkan atau menawarkan barang atau jasa di tempat-tempat strategis yang memiliki lalu lintas dan massa yang banyak.

Pemberdayaan massa yang baik akan mengkonversi tindakan yang lebih masif. Dunia pendidikan adalah salah satu produsen penghasil massa yang sangat besar, namun terkadang hal ini tidak banyak disadari oleh para petinggi negeri dan belum ada kebijakan yang mengarah pada pembacaan potensi tersebut. Segala jenjang pendidikan di suatu daerah memiliki basis massa yang sangat besar, jika skalanya adalah Indonesia maka massa pendidikan jumlahnya sangat besar. Jika satu sekolah memiliki +-300 orang maka jika kalikan dengan jumlah sekolah dalam satu daerah maka ini adalah suatu pembacaan potensi yang menjanjikan.

Unsur-unsur di atas tersebut dapat menjadi cikal bakal pemerintah membuat suatu platform video pembelajaran khusus pendidikan dengan memberdayakan pendidik. Platform video tersebut akan menjadi ekosistem yang berdampak baik kepada pemerintah, guru, peserta didik dan pengiklan. Dampak besarnya dapat menjadikan kualitas pendidikan yang lebih mandiri dan lebih baik.

Pemanfaatan potensi ini tentu sangat bisa diwujudkan oleh pemerintah yang memiliki segala sumber daya. Jika berkaca pada kesuksesan ‘mas menteri’ di GoJek sebelum berada di singgasana kemendikbud ini tentu bukan suatu hal yang sukar diwujudkan. Tidak salahnya mengadopsi sistem start up yang sedang naik daun di masa pandemi dewasa ini yaitu ‘Ruang Guru‘. Selayang pandang tentang Pemerintah harus belajar dari ‘platform’ YouTube untuk membuat tandingan Ruang Guru.

Baca juga : Skema pemberdayaan perkumpulan guru (MGMP) untuk distribusi media pembelajaran